Buruknya Moda Transportasi Massal: KRL Jabodetabek
Jakarta — Rachmatunnisa, (21), mahasiswi disalah satu universitas di bilangan Depok, Jawa Barat, terpaksa absen mengikuti ujian tengah semester. Sebab, kehadirannya diruang ujian molor empat puluh menit dari jadwal yang semestinya. Alhasil, dengan wajah lusuh dan berkeringat, Nisa – begitu dia akrab disapa – dicegah masuk ruangan oleh petugas dan diminta mengulang mata kuliah Linguistik pada semester berikutnya. “Sumpah kecewa banget gw,” kata dia.
Pengalaman pahit empat tahun lalu itu kini kembali terulang. Kereta Rel Listik komuter Jabodetabek yang menjadi pilihan transportasinya, terlambat tiba di stasiun Bogor lebih dari empat puluh menit. Dan lagi-lagi, dia terkena imbas ketidakberesaan susunan jadwal kereta kelas ekonomis itu. Tak pelak, dia menjadi bahan makian sang atasan karena tak menghadiri rapat pagi di kantornya dibilangan Mampang, Jakarta Selatan. “Dari dulu sampai sekarang sama saja, gada perubahan,” Nisa mengingat pengalamannya dulu dan sekarang.
Sehari berselang, kekecewaan yang dialami Nisa dan pengguna KRL lainnya, bermunculan di berbagai media. Isi pesan tersebut mayoritas berisi tentang keluhan, cacian sekaligus kritikan. Hal itu makin terasa gaduh tatkala instansi terkait turut meramaikan ‘perang’ pernyataan lewat media yang sama. Selama hampir sepekan berita heboh itu laris menghiasi halaman surat kabar nasional maupun lokal.
Tak tahan menjadi bulan-bulanan pemberitaan di berbagai media terkait buruknya pelayanan Kereta Rel Listrik (KRL) ekonomi, PT KAI Komuter Jabodetabek berbenah diri. Direktur Utama KAI Ignasius Jonan meminta berbagai pihak termasuk media massa dapat memahami segala kekurangan yang dimiliki KAI. Jonan berharap, aneka kekurangan ini seharusnya tak perlu disikapi terlalu reaktif, akan tetapi disambut dengan pemahaman bijak dan bukan lantas memojokan KAI jika terjadi permasalahan dilapangan.
Jonan menganalogikan, “Kalau listrik itu mati, baru merasa perlu. Kereta api juga gitu. Tapi kalau ada yang di mahalin, kereta telat, (langsung diberitakan),”kata Jonan awal September 2010 lalu. Jonan menyebutkan, salah satu pemicu buruknya pelayanan moda transportasi massal jurusan Jabodetabek antara lain disebabkan oleh minimnya Public Service Obligation (PSO) yang dianggarkan pemerintah. Hal itulah yang dinilai telah ‘mematikan’ program-program peningkatan pelayanan kereta api. Sebab, ditahun ini, KAI mengalami penyusustan penerimaan jumlah PSO sekitar Rp 175 miiar dibanding dua tahun lalu.
“Anggarannya makin lama makin efisien (menurun). Jumlah penumpang ekonomi (Jabodetabek) pertahun 160 juta dengan kecepatan rata-rata 40-45 km/penumpang, PSO-nya RP 535 miliar (pertahun). Ini yang tentu servicenya panjang, sering batal, sering telat, ini problem-problemnya,” tambah Jonan.
Selain soal minimnya PSO yang diterima, Jonan juga menyampaikan bahwa sarana dan prasarana termasuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimiliki KAI sekarang ini, lagi-lagi dianggap menjadi keterbatasan mengoptimalisasikan peningkatan pelayanan. Soal minimnya SDM, misalnya. Saat ini KAI memiliki karyawan sekitar 30 juta yang tersebar di Sumatera dan Jawa. Dengan jumlah SDM yang tersedia, itu Jonan menambahkan, kinerja anak buahnya dilapangan terasa sulit untuk mengimbangi jumlah frekuensi lalu lintas kereta yang diperkirakan mencapai 20 juta pertahun ditahun ini atau meningkat 1 persen di banding tahun lalu.
Jonan kemudian membandingkan Indonesia dengan keadaan perkeretaapian di negeri Mahatma Gandhi. Disana, kapasitas penumpang kereta sepuluh kali lebih besar dibanding Indonesia. Angkutan penumpang India tercatat mencapai angka 1,6 – 1,8 miliar pertahun sedangkan angkutan barang mencapai 200 juta. Secara ideal, India memperkerjakan setidaknya 300 ribu karyawan, tapi ternyata India memiliki karyawan sebanyak 1,5 juta orang. “Menurut hasil riset Internasional, efisiensi pegawai kita (Indonesia) nomer lima didunia. Ini hitungan paling efisien bukan urutan tidak efisien,” Jonan menjelaskan.
Tak sampai disitu, urusan sarana dan prasarana juga dikeluhkan. Landasan pacu kereta (rel) semestinya sudah menerapkan double-track. Selama ini, lalu lintas kereta yang terjadi di peak-hour atau jam sibuk, telah membatasi pergerakan KRL Jabodetabek dengan kereta api jarak jauh. “Sekarang ini track yang di Jabodetabek gantian dengan kereta jarak jauh, kalau pagi kereta jarak jauh masuk Jakarta, pasti dikalahkan, KRL-nya jalan dulu. Kalau sore berangkat, kereta KRL-nya mungkin agak dikalahkan, kereta jarak jauhnya pergi dulu. Karena ini gantian,” kata Jonan lagi.
Kurangnya armada kereta turut pula menyumbang terjadinya keterlambatan jadwal yang mengakibatkan penumpukan penumpang di beberapa stasiun. Tak ingin hal itu terus terjadi berulang-ulang, KAI merencanakan akan mendatangkan 118 unit kereta bekas asal Jepang secara bertahap di tahun ini dan 2011 dengan berbiaya Rp 105 miliar. Saat ini, KAI telah mengoperasikan sekitar 386 unit kereta dengan melayani jadwal keberangkatan sekitar 500 perhari dengan jarak tempuh 170 km di 56 stasiun kereta.
Segudang perencanaan sudah diproposalkan kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Termasuk pengadaan monitor pemantau kegiatan yang berlangsung di stasiun-stasiun padat seperti di Bogor, Cilebut, Citayam, Depok. Nantinya, pengawasan tersebut akan menggunakan circuit closed television (cctv) serta membenamkan alat komunikasi canggih untuk menggumumkan jadwal keberangkatan kereta sehingga para penumpang dapat terlayani dengan baik. Namun, langkah itu baru diprioritaskan kepada kebutuhan dan populasi penumpang di dalam stasiun.
Direktur KAI Komuter Jabodetabek Bambang Wibiyanto menjelaskan, rencana pembangunan jangka panjang juga telah dicetak biru. Seperti pemasangan penyejuk udara (AC) di seluruh kereta komuter ekonomi. Menurut Bambang, rencana itu baru dapat direalisasikan paling telat pada 2012. Alat navigasi lokasi semacam GPS, turut pula dihadirkan didalam kabin sebagai pemberi informasi keberadaan kereta saat melaju. Wacana penerapan single-class diakui masih jauh dari harapan.
“Single-class ini edukasi. Kereta itu angkutan massa jadi tergantung dari pada kualitas atau kultur dari tabiat masing-masing manusia itu sendiri. Untuk KA Ekonomi kapasitas daya tampung yang diijinkan pemerintah sebesar 150 persen,” Jonan menyelak.
Nah, untuk menikmati semua sarana tersebut, KAI memasang tarif baru. Kedepan, KAI akan melibatkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, media massa, dan pemerintah, untuk membahas bersama-sama penyesuaian harga yang cocok bagi semua kalangan. Namun, untuk mewujudkan hal itu, KAI membutuhkan dana segar dari pemerintah sebesar Rp 670 miliar. Di tahun ini pula, KAI menargetkan raihan laba sebesar Rp 428 miliar atau meningkat 27 persen dibanding tahun lalu.
“Sebesar Rp 400 miliar didapatkan dari penjualan tiket dan Rp 28 miliar dari aktivitas stasiun-stasiun,” ucap Bambang.
Ketika Usikum Bercerita Didepan Kamera
Jakarta — Ditodong mikrophone milik salah satu stasiun televisi swasta, Usikum, 45 tahun, pedagang gorengan yang biasa mangkal di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, langsung bersilat lidah. Rentetan pertanyaan yang diajukan kepadanya, disapu bersih dengan logat khas Tegal-nya. “Saya sudah sering diwawancara sama orang itu,” kata Usikum Jumat, (6/8) sore.
Sambil melayani pembeli, Usikum terus bercerita tentang pengalamannya menjadi narasumber televisi. Hujan lebat yang turun sore, itu sama sekali tak menyurutkan semangatnya berbagi kisah. Saya pun tekun mendengarkan penuturannya. Tak terasa delapan jenis panganan seharga Rp 6 ribu habis saya lumat. Tampias air hujan turut membasahi kisah cerita.
Usikum mulai berpendapat. Persoalan seperti kenaikan gaji anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dana aspirasi hingga rumah aspirasi, adalah beberapa pertanyaan yang disodorkan beruntun menyusul merebaknya isu tersebut belakangan ini di tanah air. Sekitar lima belas menit, wawancara berakhir pada dua hari berbeda. Usikum mengaku bangga bisa ceplas-ceplos di layar kaca dengan harapan kesusahannya dapat didengar. “Semoga saja presiden SBY mendengar ucapan saya dan mau turun tangan,” harap dia.
Sebagai pedagang dengan penghasilan tak menentu atau minimal Rp 500 ribu perbulan, Usikum protes terhadap mahalnya kebutuhan sembilan bahan pokok didepan kamera, yang menurut pengakuannya sedang disiarkan langsung ke penjuru nusantara. “Apalagi menjelang bulan ramadhan ini, biasanya kenaikan harga disebabkan oleh ulah nakal para tengkulak,” Usikum menjelaskan keadaan harga di pasaran.
“Kalau jaman Soeharto dulu, harga-harga kebutuhan benar-benar terjaga aman, tidak ada harga mahal. Kalau ada yang naik sedikit, langsung dipenjara pedagangnya,” kenang dia. Usikum juga menyinggung soal gaji para pejabat di senayan. Tak tanggung-tanggung, dia menantang para anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk berjualan seperti dirinya. “Biar dia tahu bagaimana jadi rakyat susah. Kerja belum bagus, udah minta gaji naik,” cetusnya.
Raut wajah Usikum kian memerah tatkala ditanya soal dana aspirasi dan rumah aspirasi. Meski tak memahami betul dua makna tersebut, dia hanya menjawab pelan: kurang bersyukur dengan yang sudah diterima. Sejak dulu, Usikum telah menyadari komparitas antara si kaya dengan si miskin tak kunjung berubah. “Yang kaya semakin kaya, yang miskin ya miskin-miskinan terus,” tanya dia mengapa keadaan itu masih sering dijumpai.
Mimpi Anak Jalanan Menembus Layar Hollywood
Jakarta — Fonda Malik, bocah berusia 13 tahun, kesulitan menggali ingatan lamanya. Matanya menolak diajak beradu pandang. Sesekali dia mengaburkan perhatian lawan bicaranya sambil memainkan jari jemarinya. Peristiwa memilukan tujuh tahun silam itu, rupanya tengah menggelayuti benaknya. Dan perlahan cerita itu pun terkuak lewat suara paraunya.
Kedua orangtuanya bercerai ketika dia berusia 6 tahun. Karena tak kuasa menahan kenyataan pahit, dia mencari ‘ketenangan’ batin di kolong jembatan sekitar Warakas, Jakarta Utara. Dari situ, dia memulai kehidupan baru dan memaksa melupakan kejadian itu.
Selama kurang lebih setahun tinggal dijalanan, dia akhirnya terdampar di rumah singgah yang digagas oleh Yayasan Himpunan Pemerhati Masyarakat Marjinal Kota (Himmata) di Jalan Plumpang B No.30 002/02, Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara pada Mei 2007. Dia memulai lagi kehidupan barunya.
Bermodalkan ‘ketrampilan’ selama dijalanan, bersama ketujuh teman lainnya, dia terpilih untuk memainkan peran sebagai pencopet dalam film layar lebar berjudul “Alangkah Lucunya Negeri Ini” garapan Dedy Mizwar yang diproduksi pada Mei 2009. Maklum, para penghuni Himmata kerap dilibatkan dalam pembuatan film, sinetron dan iklan.
Dalam harapannya, Fonda ingin sekali memperdalam bakat aktingnya. Kegiatan semacam teater dan baca puisi tak pernah dia lewati. Bagi dia, memainkan gerak tubuh dan bertutur kata didepan kamera, memiliki keasyikan tersendiri. Selain banyak pengalaman, dia juga keranjingan asupan pengetahuan sekaligus pembekalan motivasi yang diberikan oleh salah satu kru selama proses pembuatan film itu dibuat.
“Ditempat syuting banyak ilmu, banyak yang ngajarin akting. Dapat pengalaman baru jadi semangat terus. Bisa jadi modal menembus Hollywood,” kata dia yang langsung disoraki teman-temannya, sore ini.
Dikalangan teman-teman seusianya, Fonda yang kini duduk dikelas 5 Sekolah Dasar kerap disapa Artis. Tapi, menurut dia hal itu hanyalah sebuah dorongan agar cita-citanya menjadi aktor cilik dapat terwujud kelak. Di perayaan Hari Anak Nasional besok – rutin dirayakan setiap 23 Juli – dia berharap semoga ibunya yang kini menetap di Bali bersama adiknya Sherina Firda, 6 tahun, bisa mengunjunginya.
“Kangen sama mama. Semoga hari anak besok bisa datang kesini. Sudah lama gak ketemu mama, terakhir 17 Agustus 2009,” harapnya.
Mengais Rezeki, Mengharap Durian Sang Ramadhan
Jakarta — Tangisan Juliana Putri, bocah berumur 1 tahun, pecah di telinga ibunya, Icih Rohayati, 36 tahun. Dia menangis lantaran ibunya tiba-tiba menariknya dari pinggir jalan – tempat dia biasa berjualan tisu.
Sikap aneh ibu dari sembilan anak ini bukan sedang mendapatkan rezeki mendadak, melainkan dia merasa terkejut luar biasa atas kedatangan tamu tak diundang, yang bakal mengusik ketenangannya mencari nafkah di pinggiran jalan Plumpang, Jakarta Utara, Kamis pekan lalu.
Sambil menggendong anaknya, Icih yang berkalungkan deretan bekas tutup botol minuman itu, lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari serbuan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Utara. Keempat anaknya, Maharani Fadila, 6 tahun, Al Adromi, 4 tahun, dan Sapna Prihatin Putri, 3 tahun, yang juga berada dilokasi itu, sudah lebih dulu kabur.
Sementara, keempat anak lainnya Jihan Cindy Jehanada, 15 tahun, Hoki Sebastian, 13 tahun, Wempi Ramadhan, 12 tahun, dan Faisal Brian, 11 tahun, tengah mengais rezeki dilokasi berbeda.
Sepak terjang Icih, boleh dibilang sebagai sindikat gelandangan dan pengemis (gepeng) bagi anak-anaknya. Kesehariannya adalah mengais rezeki lewat berjualan tisu, mengamen, dan mengemis. Dia juga mengkoordinir seluruh anaknya untuk mengemis di titik-titik ‘sumber uang’ di seputaran Jakarta Utara.
Mereka tinggal dirumah kontrakan tak jauh dari Pasar Ular, Plumpang, Koja, Jakarta Utara. Suaminya yang lebih muda delapan tahun, Hendrik, 28 tahun, bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak tetap antara Rp 20.000 – Rp 30.000 perhari.
Untuk menopang perekonomian keluarga, dia terpaksa membebankan biaya hidup kepada seluruh anaknya. Anak-anaknya diminta untuk menyetorkan hasil mengemis dan mengamen saban hari minimal sebesar Rp 50.000.
“Anak sembilan buat mencukupi makan sehari-hari aja gak cukup. Belom bayar kontrakan. Hasil ngamen paling banter Rp 30.000 sehari, itu kalau getol, kalau ada razia begini, gak dapat acan-acan, sekeluarga jadi kagak makan,” kata dia mengeluh.
Akan tetapi, praktek ‘premanisme’ itu tak bertahan lama. Sebagian anaknya menolak menyetor lantaran sering digaruk Satpol PP saat razia dadakan digelar dijalanan. Karena kasihan, dia kemudian tak lagi meminta kutipan kepada anak-anaknya.
Keluarga Icih memang jadi langganan terkena razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).Apalagi setiap menjelang bulan ramadhan. Petugas Satpol PP gencar merazia pengemis, gelandangan, pengamen, yang kedapatan berkeliaran di jalan-jalan strategis seperti di perempatan rambu lalu-lintas, terminal, bahkan disekitar rumah ibadah.
“Duit hasil ngamen, ngemis, lima ratus ribu diambil semua, setelah itu saya dilepasin lagi ke jalanan. Waktu itu saya ditangkap lagi ngamen di Cempaka Mas,” dia menceritakan pengalaman pertamanya ditangkap pada ramadhan 2001.
Wanita asal Brebes, Jawa Tengah ini, sudah puluhan tahun mencari duit di jalanan Ibukota. Dia bertandang ke Ibukota pertama kali sekitar tahun 90-an bersama temannya yang sudah lebih dulu bekerja di Jakarta. Kala itu dia menetap di rumah kontrakan di Penggarengan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Menjadi pembantu rumah tangga di keluarga keturunan Arab adalah pekerjaan pertamanya di Jakarta.
Kini, menjelang bulan suci ramadhan, dia berharap petugas tidak melakukan operasi razia. Lulusan sekolah dasar ini bilang, mengemis dibulan suci ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Selain banyaknya orang yang memberi sedekah, dia juga kerap mendapatkan uang berlebih.
“Kalau bulan puasa banyak sembako, kebagian makanan buka puasa, sahur, banyak orang yang beramal. Biasanya saya mangkalnya di Cempaka Mas, kalau disini gada yang ngasih sembako,” kata dia.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara Akmal Towe mengatakan, fenomena gunung es ini sudah menjadi fokus perhatiannya. Hampir setiap tahun, angka PMKS di Jakarta Utara terus bertambah. Saat ini, Sudin Sosial mencatat 7000 PMKS bermukim di Jakarta Utara.
Sebanyak 220 telah ditampung di rumah singgah sementara yang lainnya masih menyebar di sejumlah titik seperti di terminal Tanjung Priok, Plumpang, Warakas, dan lainnya. “Akan kami beri pelatihan kemandirian, supaya tidak kembali lagi ke jalanan,” janji Akmal lewat sambungan telepon, Jumat (23/7).
Kopi Panas di Minggu Pagi

Rina Maulani, ibu satu anak berusia 28 tahun ini tampak sibuk meladeni para pembeli. Tangannya piawai meracik sajian kopi panas yang dipesan salah seorang pembeli. Namun, sejak penggerebekan teroris di rumah kontrakan di Jalan Warga 007/03 No.65 Pejaten Barat Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kemarin sore, dia mulai membatasi aktivitasnya. “Saya takut kejadian ini seperti di Pamulang,” kata Rini bercerita kepada saya di rumahnya yang tak jauh dari lokasi penggerebekan, Jumat (7/5).
Istri dari Daril Saputra yang menikah empat tahun silam, sungguh tak mengira, salah satu orang yang diduga anggota kelompok terorisme yang ditangkap Kepolisian Polda Metro Jaya, itu kerap kali memesan kopi setiap pengajian Jama’ah Ansharut Tauhid Imaroh, rutin digelar pada Minggu pagi.
“Namanya Ardianysah, dia yang paling sering memesan kopi disini,” tutur Rini. “Tak begitu tinggi, ikal, putih, berjanggut.”
Selain Ardi, Rina acapkali melihat sosok Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, pada pengajian rutin mingguan itu, yang digelar mulai pukul tujuh pagi hingga pukul dua belas siang. Kelompok Ardi, menurut Rina, juga sering melakukan sholat Dzuhur di Masjid jami Daarun-Na’im, tak jauh dari rumah kontrakan. Tapi, Rini menjelaskan, kelompok itu tak pernah mau sholat berjamaah bersama masyarakat lainnya. “Mereka selalu sholat setelah warga selesai,” katanya.
Pada saat perayaan Idul Adha tiba, Rina menjelaskan, kelompok Ardi sempat terlihat tengah membagikan daging kambing kepada masyarakat sekitar. Sejak pertama kali mengontrak pada Oktober 2008, tradisi bagi-bagi ini baru dilakukannya pada tahun 2009. Dari sini, diketahui, posisi Ardi didalam kelompok itu merupakan penyewa kontrakan dan sekaligus sebagai Humas Jama’ah Ansharut Tauhid Imaroh wilayah Jakarta.
“Awalnya yang mengontrak ada tiga orang (termasuk Ardi). Usianya sekitar 30 – 40 tahun, semuannya laki-laki,” jelasnya.
Suami Rini, Daril, bercerita, ketika pemberitaan tentang konflik di Jalur Gaza, Palestina merebak di tanah air, kelompok Ardi juga mengirimkan pasukan ke lokasi perang. Kontrakan berlantai dua dengan sepuluh pintu, itu kontan dijadikan tempat latihan militer dilahan kosong yang berada dihalaman depan. “Pake baju hitam-hitam dengan tongkat seperti memegang senjata,” ucap Daril.
Pernyataan Daril, dibenarkan oleh Ketua Rukun Tetangga. Moechtar Saleh mengatakan, kelompok ini pernah terlihat melakukan latihan bela diri. Latihan itu kerap dilakukan pada malam hari dan pagi. Kelompok Ardi juga mendirikan lembaga pendidikan Dakwah Mus’ab Bin Umair pada Juni 2009. Namun, hingga lembaga itu berjalan sekitar setahun lebih, tidak ada satupun warga sekitar yang terdaftar sebagai murid.
Moechtar mengakui, lembaga dakwah yang didirikan kelompok Ardi, telah mendapat ijin darinya dan Achmad Fauzi, ketua Rukun Warga. Dalam lembaran surat permohonan, pemilik kontrakan Arfiet, warga Kemang Raya Timur Jakarta, diketahui menjabat sebagai Direktur Utama. Sedangkan Direktur Pendidikan dijabat oleh Nanang Ainur Rafia dan Direktur Keuangan dipegang oleh Yanto Fadilah. Yanto juga sering terlihat bersama Ardi diwarung Rina.
Penggerebekan pada pukul setengah enam kemarin sore berakhir sekitar pukul delapan malam. Tak ada perlawanan dari kelompok Ardi. Hingga ditangkapnya ketujuh orang itu – termasuk Ardi – Moechtar mengaku tak tahu persis berapa banyak orang yang mengontrak. Sebab, sejak mulai menempati pada Oktober 2008 hingga akhir April 2010, kelompok Ardi tidak pernah menyerahkan data terkait identitas penyewa resmi. “Dari sini kecurigaan muncul,” tuturnya ketika ditemui Tempo dikediamannya.
Sejak merasakan ada keanehan, Moechtar berterus terang tak bisa begitu saja mengusir kelompok pengajian tersebut. Sejauh tak ada hal-hal yang merugikan orang lain, Moechtar berasumsi, setiap warga negara berhak hidup di negerinya sendiri. “Ya gak bisa begitu saja mengusir,” ujarnya.
Sebagai pengurus wilayah, Moechtar memegang penuh tanggung jawab yang menyangkut rasa keamanan dan ketentraman masyarakat. Hampir setahun berlalu, keanehan itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah penggerebekan di rumah bercat biru muda di Kamis sore menjelang kumandang adzan magrib.
foto: Tempo/Tony Hartawan
Paul McCartney Hentak Amerika Lewat Tur “Up and Coming”

Setelah sukses menggelar konser di New York pada 2009 lalu, Paul McCartney akan kembali ke atas panggung dihadapan penggemarnya di Amerikas Serikat melalui rangkaian tur bertitel “Up and Coming”. Rangkaian tur akan diadakan di tempat-tempat yang terbilang unik dan belum pernah dikunjungi hampir diseluruh kota di negara Abang Sam itu mulai 28 Maret 2010. Tur perdana bakal berlangsung di Arena Arizona Jobing.com Phoenix, yang sekaligus menandai kunjungan keduanya setelah sebelumnya pada 2005 silam.
Sesuai rencana, dua hari kemudian McCartney bakal bertandang ke Hollywood Bowl. Kedatangannya merupakan kali kedua semenjak konser terdahulunya pada 1993. Bagi Paul, tempat itu begitu istimewa, maka tak heran ia akan ‘menghabiskan’ suaranya dua hari berturut-turut.
McCartney berjanji akan memuaskan dahaga penggemarnya di Amerika Serikat sekaligus menyambut kedatangan musim panas di 2010 ini. Seiring beredarnya pemberitaan tur, sebuah kabar mengatakan bahwa kemungkinan The Beatles juga turut tampil di Chicago’s Wrigley Field, tapi sejauh ini kabar tersebut belum dapat dikonfirmasi kebenarannya.
Pada konser yang pernah didokumentasikan di album Live Good Evening New York City tahun lalu, kali ini Paul bakal menampilkan seluruh koleksi musiknya mulai dari album terbaru milik The Beatles hingga koleksi album solo; Electric Arguments.
Menurut keterangan pers yang dituliskan, sejumlah tembang baru yang belum pernah masuk daftar lagu, direncanakan akan dibawakan termasuk lagu “(I Want To) Come Home” yang menjadi soundtrack film Everybody’s Fine yang dibintangi Robert De Niro.
Penjualan pra-tiket eksklusif dapat dipesan mulai 28 Februari di situs resmi paulmccartney.com
Jadwal tur ‘Up and Coming’
Sunday 28th March Jobing.com Arena, Glendale AZ
Tuesday 30th March Hollywood Bowl, Los Angeles CA
Wednesday 31st March Hollywood Bowl, Los Angeles CA
Saturday 3rd April Sun Life Stadium, Miami FL
Monday 5th April Coliseo De Puerto Rico, Puerto Rico
source: paulmccartney.com/news.php
I Ask My Self: Are You Happy Yet?
I am writing this in the mid of night. Sitting on the bed, accompany with my wonderful bedfellow: pillow, netbook, and radio’s sound, I start my bed’s agenda. I am like to do anything before my time of sleep arrive, sound like, write down my all day activity, listen to romantic song, watching news, and read some of book.
But I don’t how, I spend my time nothing for about one hours. Still can’t close my eyes. I try harder to kill my insomnia simpthom, but still not work proper. Suddenly, my brain flows and telling me something important about what the most people search for in their each living. I figure out what was going on my previous moments. Yes, I’ve got stuck on a one criteria: happiness.
Almost all the people have heard the famous quotation of happiness. Some fall back on it because it makes them sound wise and thoughtful, while others consider it a convenient explanation to deal with life: bad and good.
As a life coach, I deal with unhappy people on daily basis. Behind each paranoia, addiction and conflict, there is the core issue of trying to fill ugly gaping holes in the soul. The person feels inadequate and empty inside, and seeking something to make thing right. The more they see out, the more they find, the more they feel exhausted, inadequate and empty. It become a vicious cycle.
The happiness may comes from within because you are the happiness itself. But in practically, someone it’s not always easy to put the action on happy face concept. Health and happiness often goes together, and we have a selection of health-related stories.
However, to find the happiness you have to know first itself. The word’s present is a guide to perceived and touching it from another door. The price of happiness seems right there ready and waiting for us. So why do many of us find that we’re not living so happily ever after?
Everyone, including me, need a magic “tools” at least to enlighten the walk of life and finding what exactly means outfit. Where I should search the right one its happiness? I keep on searching…
foto: getty images
Susandi Sukatma, Tahanan “Suci” Mencari Keadilan

Rasa bahagia tak lagi terbendung ketika “malaikat” penyelamat datang menghampirinya. Sambil menatap sorotan mata pewarta, suami dari Tyas Rumanti yang menikah pada Agustus 2007 silam, tampil tenang disaat dirinya diberondong pertanyaan. Matanya berkaca-kaca seraya menjelaskan perasaan yang tengah dipermainkan oleh tameng “Kekuasaan dan Konspirasi Hitam”. Tak ada senyum yang terangkai diwajahnya, namun ia sempat memperlihatkan kepercayaan diri bahwa penderitaan yang dirasakannya tak lama lagi bakal berakhir.
Tak banyak prakata yang diumbarnya. Ia hanya mampu ucapkan sekira dua baris kalimat. Tampak mengenakan seragam tahanan warna kuning bernomor 273, Susandi Sukatma alias Aan, 30 tahun, terlihat sumringah tatkala mendapatkan kunjungan dari Satuan Petugas Pemberantasan Mafia Hukum. Tanpa beralas kaki, ia meladeni sesi pemotretan yang tak lebih dari lima menit itu.
Suasana riuh menyelinap pagi itu di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang. Diapit anggota Satgas, Aan perlahan menjawab sejumlah pertanyaan dari para pencari berita. Pertanyaan itulah yang membuatnya tak ragu meneteskan air mata. Seketika suara sayup pun keluar dari bibirnya.
“Terima kasih sudah dibantu, saya hanya ingin dibantu,” kata Aan berulang kali.
Pertemuan ini adalah yang pertama kalinya sejak ia ditahan 15 Desember 2009. Sehari sebelumnya, mantan karyawan perusahaan perikanan PT Maritim Timur Jaya ini dijebak oleh oknum perusahaan ketika dirinya tengah berada di lantai 8 gedung Artha Graha, SCBD Jakarta.
Pelaku penjebakan yang juga anggota Polisi Daerah Maluku, Obet Watinamela, berperan bak sutradara. Ia menyuruh Aan membuka kemeja dan celana yang dikenakan sambil memeriksa isi dompetnya. Ia lalu memaksa Aan untuk mengakui bahwa serbuk narkoba berjenis ekstasi yang terselip di dalam gulungan uang kertas lima puluh ribu, adalah miliknya. Lantaran tak pernah bersentuhan dengan barang itu, ia jelas menolak keras tuduhan tersebut. Tak pelak, tindakan penganiyaan pun mendarat disekujur wajahnya. Ternyata, ia hanya dijadikan korban perseteruan oleh kedua pimpinan dimana ia bekerja.
Sejak itulah ia terpaksa menjalani hukuman “suci” atas tuduhan fitnah yang ditimpakan kepadanya. Dan kini, pengajuan penangguhan penahanan untuknya tengah diupayakan oleh Satgas Mafia Hukum. Kasus ini juga sudah memasuki meja Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Demontrasi Tuntut Pemberantasan Mafia Hukum
Aksi unjuk rasa mewarnai persidangan kasus korupsi Sistem Administrasi Badan Hukum (Sisminbakum) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (17/2/2010). Sekitar tiga puluh massa yang tergabung dalam Laskar Empati Pembela Negara (Lepas) menuntut pemilik PT. Sarana Rekatama Dinamika, Hartono Tanoesoedibyo dan mantan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, Yusril Ihza Mahendra dijadikan tersangka baru praktek korupsi biaya akses situs http://sisminbakum.com yang merugikan negara lebih dari 200 miliar.


