Kopi Panas di Minggu Pagi

Rina Maulani, ibu satu anak berusia 28 tahun ini tampak sibuk meladeni para pembeli. Tangannya piawai meracik sajian kopi panas yang dipesan salah seorang pembeli. Namun, sejak penggerebekan teroris di rumah kontrakan di Jalan Warga 007/03 No.65 Pejaten Barat Pasar Minggu, Jakarta Selatan, kemarin sore, dia mulai membatasi aktivitasnya. “Saya takut kejadian ini seperti di Pamulang,” kata Rini bercerita kepada saya di rumahnya yang tak jauh dari lokasi penggerebekan, Jumat (7/5).
Istri dari Daril Saputra yang menikah empat tahun silam, sungguh tak mengira, salah satu orang yang diduga anggota kelompok terorisme yang ditangkap Kepolisian Polda Metro Jaya, itu kerap kali memesan kopi setiap pengajian Jama’ah Ansharut Tauhid Imaroh, rutin digelar pada Minggu pagi.
“Namanya Ardianysah, dia yang paling sering memesan kopi disini,” tutur Rini. “Tak begitu tinggi, ikal, putih, berjanggut.”
Selain Ardi, Rina acapkali melihat sosok Abu Bakar Ba’asyir, pemimpin Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Solo, pada pengajian rutin mingguan itu, yang digelar mulai pukul tujuh pagi hingga pukul dua belas siang. Kelompok Ardi, menurut Rina, juga sering melakukan sholat Dzuhur di Masjid jami Daarun-Na’im, tak jauh dari rumah kontrakan. Tapi, Rini menjelaskan, kelompok itu tak pernah mau sholat berjamaah bersama masyarakat lainnya. “Mereka selalu sholat setelah warga selesai,” katanya.
Pada saat perayaan Idul Adha tiba, Rina menjelaskan, kelompok Ardi sempat terlihat tengah membagikan daging kambing kepada masyarakat sekitar. Sejak pertama kali mengontrak pada Oktober 2008, tradisi bagi-bagi ini baru dilakukannya pada tahun 2009. Dari sini, diketahui, posisi Ardi didalam kelompok itu merupakan penyewa kontrakan dan sekaligus sebagai Humas Jama’ah Ansharut Tauhid Imaroh wilayah Jakarta.
“Awalnya yang mengontrak ada tiga orang (termasuk Ardi). Usianya sekitar 30 – 40 tahun, semuannya laki-laki,” jelasnya.
Suami Rini, Daril, bercerita, ketika pemberitaan tentang konflik di Jalur Gaza, Palestina merebak di tanah air, kelompok Ardi juga mengirimkan pasukan ke lokasi perang. Kontrakan berlantai dua dengan sepuluh pintu, itu kontan dijadikan tempat latihan militer dilahan kosong yang berada dihalaman depan. “Pake baju hitam-hitam dengan tongkat seperti memegang senjata,” ucap Daril.
Pernyataan Daril, dibenarkan oleh Ketua Rukun Tetangga. Moechtar Saleh mengatakan, kelompok ini pernah terlihat melakukan latihan bela diri. Latihan itu kerap dilakukan pada malam hari dan pagi. Kelompok Ardi juga mendirikan lembaga pendidikan Dakwah Mus’ab Bin Umair pada Juni 2009. Namun, hingga lembaga itu berjalan sekitar setahun lebih, tidak ada satupun warga sekitar yang terdaftar sebagai murid.
Moechtar mengakui, lembaga dakwah yang didirikan kelompok Ardi, telah mendapat ijin darinya dan Achmad Fauzi, ketua Rukun Warga. Dalam lembaran surat permohonan, pemilik kontrakan Arfiet, warga Kemang Raya Timur Jakarta, diketahui menjabat sebagai Direktur Utama. Sedangkan Direktur Pendidikan dijabat oleh Nanang Ainur Rafia dan Direktur Keuangan dipegang oleh Yanto Fadilah. Yanto juga sering terlihat bersama Ardi diwarung Rina.
Penggerebekan pada pukul setengah enam kemarin sore berakhir sekitar pukul delapan malam. Tak ada perlawanan dari kelompok Ardi. Hingga ditangkapnya ketujuh orang itu – termasuk Ardi – Moechtar mengaku tak tahu persis berapa banyak orang yang mengontrak. Sebab, sejak mulai menempati pada Oktober 2008 hingga akhir April 2010, kelompok Ardi tidak pernah menyerahkan data terkait identitas penyewa resmi. “Dari sini kecurigaan muncul,” tuturnya ketika ditemui Tempo dikediamannya.
Sejak merasakan ada keanehan, Moechtar berterus terang tak bisa begitu saja mengusir kelompok pengajian tersebut. Sejauh tak ada hal-hal yang merugikan orang lain, Moechtar berasumsi, setiap warga negara berhak hidup di negerinya sendiri. “Ya gak bisa begitu saja mengusir,” ujarnya.
Sebagai pengurus wilayah, Moechtar memegang penuh tanggung jawab yang menyangkut rasa keamanan dan ketentraman masyarakat. Hampir setahun berlalu, keanehan itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah penggerebekan di rumah bercat biru muda di Kamis sore menjelang kumandang adzan magrib.
foto: Tempo/Tony Hartawan

Mengerikan, teroris bisa ada ditengah-tengah kita. Selama masyarakat kita kuat untuk tidak langsung percaya begitu saja kepada orang asing, Insya Allah, teroris lambat laun akan menyingkir dan musnah!!
nisbroth
May 17, 2010 at 12:49 pm