Mengais Rezeki, Mengharap Durian Sang Ramadhan
Jakarta — Tangisan Juliana Putri, bocah berumur 1 tahun, pecah di telinga ibunya, Icih Rohayati, 36 tahun. Dia menangis lantaran ibunya tiba-tiba menariknya dari pinggir jalan – tempat dia biasa berjualan tisu.
Sikap aneh ibu dari sembilan anak ini bukan sedang mendapatkan rezeki mendadak, melainkan dia merasa terkejut luar biasa atas kedatangan tamu tak diundang, yang bakal mengusik ketenangannya mencari nafkah di pinggiran jalan Plumpang, Jakarta Utara, Kamis pekan lalu.
Sambil menggendong anaknya, Icih yang berkalungkan deretan bekas tutup botol minuman itu, lari tunggang langgang menyelamatkan diri dari serbuan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Jakarta Utara. Keempat anaknya, Maharani Fadila, 6 tahun, Al Adromi, 4 tahun, dan Sapna Prihatin Putri, 3 tahun, yang juga berada dilokasi itu, sudah lebih dulu kabur.
Sementara, keempat anak lainnya Jihan Cindy Jehanada, 15 tahun, Hoki Sebastian, 13 tahun, Wempi Ramadhan, 12 tahun, dan Faisal Brian, 11 tahun, tengah mengais rezeki dilokasi berbeda.
Sepak terjang Icih, boleh dibilang sebagai sindikat gelandangan dan pengemis (gepeng) bagi anak-anaknya. Kesehariannya adalah mengais rezeki lewat berjualan tisu, mengamen, dan mengemis. Dia juga mengkoordinir seluruh anaknya untuk mengemis di titik-titik ‘sumber uang’ di seputaran Jakarta Utara.
Mereka tinggal dirumah kontrakan tak jauh dari Pasar Ular, Plumpang, Koja, Jakarta Utara. Suaminya yang lebih muda delapan tahun, Hendrik, 28 tahun, bekerja sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak tetap antara Rp 20.000 – Rp 30.000 perhari.
Untuk menopang perekonomian keluarga, dia terpaksa membebankan biaya hidup kepada seluruh anaknya. Anak-anaknya diminta untuk menyetorkan hasil mengemis dan mengamen saban hari minimal sebesar Rp 50.000.
“Anak sembilan buat mencukupi makan sehari-hari aja gak cukup. Belom bayar kontrakan. Hasil ngamen paling banter Rp 30.000 sehari, itu kalau getol, kalau ada razia begini, gak dapat acan-acan, sekeluarga jadi kagak makan,” kata dia mengeluh.
Akan tetapi, praktek ‘premanisme’ itu tak bertahan lama. Sebagian anaknya menolak menyetor lantaran sering digaruk Satpol PP saat razia dadakan digelar dijalanan. Karena kasihan, dia kemudian tak lagi meminta kutipan kepada anak-anaknya.
Keluarga Icih memang jadi langganan terkena razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).Apalagi setiap menjelang bulan ramadhan. Petugas Satpol PP gencar merazia pengemis, gelandangan, pengamen, yang kedapatan berkeliaran di jalan-jalan strategis seperti di perempatan rambu lalu-lintas, terminal, bahkan disekitar rumah ibadah.
“Duit hasil ngamen, ngemis, lima ratus ribu diambil semua, setelah itu saya dilepasin lagi ke jalanan. Waktu itu saya ditangkap lagi ngamen di Cempaka Mas,” dia menceritakan pengalaman pertamanya ditangkap pada ramadhan 2001.
Wanita asal Brebes, Jawa Tengah ini, sudah puluhan tahun mencari duit di jalanan Ibukota. Dia bertandang ke Ibukota pertama kali sekitar tahun 90-an bersama temannya yang sudah lebih dulu bekerja di Jakarta. Kala itu dia menetap di rumah kontrakan di Penggarengan, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Menjadi pembantu rumah tangga di keluarga keturunan Arab adalah pekerjaan pertamanya di Jakarta.
Kini, menjelang bulan suci ramadhan, dia berharap petugas tidak melakukan operasi razia. Lulusan sekolah dasar ini bilang, mengemis dibulan suci ramadhan berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Selain banyaknya orang yang memberi sedekah, dia juga kerap mendapatkan uang berlebih.
“Kalau bulan puasa banyak sembako, kebagian makanan buka puasa, sahur, banyak orang yang beramal. Biasanya saya mangkalnya di Cempaka Mas, kalau disini gada yang ngasih sembako,” kata dia.
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Utara Akmal Towe mengatakan, fenomena gunung es ini sudah menjadi fokus perhatiannya. Hampir setiap tahun, angka PMKS di Jakarta Utara terus bertambah. Saat ini, Sudin Sosial mencatat 7000 PMKS bermukim di Jakarta Utara.
Sebanyak 220 telah ditampung di rumah singgah sementara yang lainnya masih menyebar di sejumlah titik seperti di terminal Tanjung Priok, Plumpang, Warakas, dan lainnya. “Akan kami beri pelatihan kemandirian, supaya tidak kembali lagi ke jalanan,” janji Akmal lewat sambungan telepon, Jumat (23/7).
