Mimpi Anak Jalanan Menembus Layar Hollywood
Jakarta — Fonda Malik, bocah berusia 13 tahun, kesulitan menggali ingatan lamanya. Matanya menolak diajak beradu pandang. Sesekali dia mengaburkan perhatian lawan bicaranya sambil memainkan jari jemarinya. Peristiwa memilukan tujuh tahun silam itu, rupanya tengah menggelayuti benaknya. Dan perlahan cerita itu pun terkuak lewat suara paraunya.
Kedua orangtuanya bercerai ketika dia berusia 6 tahun. Karena tak kuasa menahan kenyataan pahit, dia mencari ‘ketenangan’ batin di kolong jembatan sekitar Warakas, Jakarta Utara. Dari situ, dia memulai kehidupan baru dan memaksa melupakan kejadian itu.
Selama kurang lebih setahun tinggal dijalanan, dia akhirnya terdampar di rumah singgah yang digagas oleh Yayasan Himpunan Pemerhati Masyarakat Marjinal Kota (Himmata) di Jalan Plumpang B No.30 002/02, Rawa Badak, Koja, Jakarta Utara pada Mei 2007. Dia memulai lagi kehidupan barunya.
Bermodalkan ‘ketrampilan’ selama dijalanan, bersama ketujuh teman lainnya, dia terpilih untuk memainkan peran sebagai pencopet dalam film layar lebar berjudul “Alangkah Lucunya Negeri Ini” garapan Dedy Mizwar yang diproduksi pada Mei 2009. Maklum, para penghuni Himmata kerap dilibatkan dalam pembuatan film, sinetron dan iklan.
Dalam harapannya, Fonda ingin sekali memperdalam bakat aktingnya. Kegiatan semacam teater dan baca puisi tak pernah dia lewati. Bagi dia, memainkan gerak tubuh dan bertutur kata didepan kamera, memiliki keasyikan tersendiri. Selain banyak pengalaman, dia juga keranjingan asupan pengetahuan sekaligus pembekalan motivasi yang diberikan oleh salah satu kru selama proses pembuatan film itu dibuat.
“Ditempat syuting banyak ilmu, banyak yang ngajarin akting. Dapat pengalaman baru jadi semangat terus. Bisa jadi modal menembus Hollywood,” kata dia yang langsung disoraki teman-temannya, sore ini.
Dikalangan teman-teman seusianya, Fonda yang kini duduk dikelas 5 Sekolah Dasar kerap disapa Artis. Tapi, menurut dia hal itu hanyalah sebuah dorongan agar cita-citanya menjadi aktor cilik dapat terwujud kelak. Di perayaan Hari Anak Nasional besok – rutin dirayakan setiap 23 Juli – dia berharap semoga ibunya yang kini menetap di Bali bersama adiknya Sherina Firda, 6 tahun, bisa mengunjunginya.
“Kangen sama mama. Semoga hari anak besok bisa datang kesini. Sudah lama gak ketemu mama, terakhir 17 Agustus 2009,” harapnya.
