dayonice.com

reports, reporting, reported

Ketika Usikum Bercerita Didepan Kamera

leave a comment »

Jakarta — Ditodong mikrophone milik salah satu stasiun televisi swasta, Usikum, 45 tahun, pedagang gorengan yang biasa mangkal di bilangan Ragunan, Jakarta Selatan, langsung bersilat lidah. Rentetan pertanyaan yang diajukan kepadanya, disapu bersih dengan logat khas Tegal-nya. “Saya sudah sering diwawancara sama orang itu,” kata Usikum Jumat, (6/8) sore.

Sambil melayani pembeli, Usikum terus bercerita tentang pengalamannya menjadi narasumber televisi. Hujan lebat yang turun sore, itu sama sekali tak menyurutkan semangatnya berbagi kisah. Saya pun tekun mendengarkan penuturannya. Tak terasa delapan jenis panganan seharga Rp 6 ribu habis saya lumat. Tampias air hujan turut membasahi kisah cerita.

Usikum mulai berpendapat. Persoalan seperti kenaikan gaji anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dana aspirasi hingga rumah aspirasi, adalah beberapa pertanyaan yang disodorkan beruntun menyusul merebaknya isu tersebut belakangan ini di tanah air. Sekitar lima belas menit, wawancara berakhir pada dua hari berbeda. Usikum mengaku bangga bisa ceplas-ceplos di layar kaca dengan harapan kesusahannya dapat didengar. “Semoga saja presiden SBY mendengar ucapan saya dan mau turun tangan,” harap dia.

Sebagai pedagang dengan penghasilan tak menentu atau minimal Rp 500 ribu perbulan, Usikum protes terhadap mahalnya kebutuhan sembilan bahan pokok didepan kamera, yang menurut pengakuannya sedang disiarkan langsung ke penjuru nusantara. “Apalagi menjelang bulan ramadhan ini, biasanya kenaikan harga disebabkan oleh ulah nakal para tengkulak,” Usikum menjelaskan keadaan harga di pasaran.

“Kalau jaman Soeharto dulu, harga-harga kebutuhan benar-benar terjaga aman, tidak ada harga mahal. Kalau ada yang naik sedikit, langsung dipenjara pedagangnya,” kenang dia. Usikum juga menyinggung soal gaji para pejabat di senayan. Tak tanggung-tanggung, dia menantang para anggota Dewan Perwakilan Rakyat untuk berjualan seperti dirinya. “Biar dia tahu bagaimana jadi rakyat susah. Kerja belum bagus, udah minta gaji naik,” cetusnya.

Raut wajah Usikum kian memerah tatkala ditanya soal dana aspirasi dan rumah aspirasi. Meski tak memahami betul dua makna tersebut, dia hanya menjawab pelan: kurang bersyukur dengan yang sudah diterima. Sejak dulu, Usikum telah menyadari komparitas antara si kaya dengan si miskin tak kunjung berubah. “Yang kaya semakin kaya, yang miskin ya miskin-miskinan terus,” tanya dia mengapa keadaan itu masih sering dijumpai.

Advertisement

Written by xdayonicex

August 8, 2010 at 12:05 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.